🍭 Apakah Pedofilia Bisa Disembuhkan?

Pedofilia. Kondisi gak normal ketika seseorang suka sama anak-anak. Kenapa orang bisa jadi pedofil? Dan, apakah mungkin pedofilia bisa disembuhin?

Pedofilia. Kondisi gak normal ketika seseorang suka sama… anak-anak. Mungkin kita pun ngerasa ngeri pas denger kasus atau pengakuan para pedofil dari layar kaca. Tapi sebenernya, apa itu gangguan pedofilia? Kenapa orang bisa jadi pedofil? Dan, apakah mungkin pedofilia bisa disembuhin?

Kenapa bisa ada pedofilia?

Oke, kalau menurut buku DSM V yang sering jadi pegangan para ahli kejiwaan, gangguan pedofilia adalah kondisi ketika orang dewasa tertarik dan berfantasi secara seksual ke anak kecil berusia 13 tahun atau lebih muda lagi.

Ketertarikan ini terjadi setidaknya selama enam bulan, dan sampai ngeganggu aktivitas sehari-hari. Seseorang bisa dianggep pedofil kalau berusia seenggaknya 16 tahun, atau 5 tahun lebih tua dari anak yang disukainya.

Tapi apa yang bikin seseorang jadi pedofil? Dan bisakah kita mencegahnya?

Sampai sekarang peneliti belum tahu pasti, tapi kemungkinan ada beberapa faktor. Salah satunya, kelainan di otak. Dari berbagai penelitian, ditemuin kalo para pedofil punya otak yang lebih kecil — tepatnya di bagian yang berfungsi ngatur emosi. Bahkan, pernah ada kasus aneh: ada seorang pria yang perilaku pedofilianya ditentuin sama keberadaan tumor di otaknya.

Ya, kasus ini nunjukin kalau perilaku pedofilia kemungkinan dipengaruhin sama kelainan otak. Oke, tapi selain itu, apa ada penyebab lain?

Ada kemungkinan kalau seseorang bisa jadi pedofilia gara-gara… lingkungannya. Suatu penelitian nemuin hubungan antara kekerasan seksual pada anak dan perilaku pedofil ketika dia udah dewasa. Kemungkinan, mereka-mereka ini juga jadi susah berempati sama para korban.

Bahkan, ahli bernama Duncan Craig kalau banyak pedofil dulunya jadi korban pedofil lain. Ibarat lingkaran setan yang susah diputusin… Tapi sebenernya, apakah mungkin pedofil bisa sembuh?

Apakah bisa disembuhkan?

Jawaban sedihnya: gak bisa.

Tapi para pedofil bisa dapetin penanganan yang sesuai biar gak jadi predator dan nimbulin trauma mendalam kepada korbannya. Kayak misalnya sosok Max, warga Jerman yang ngaku punya fantasi seksual ke anak kecil. Gara-gara itu, dia malu dan ngeri sendiri, sampe akhirnya minta bantuan profesional. Dia pun ngikutin terapi dan gak ngebiarin dirinya berduaan sama anak kecil.

Ya, pada akhirnya, mau gimanapun penyebabnya, para pedofil punya pilihan buat ngendaliin diri dan gak ngebahayain sekitar. Apa yang dirasakan dan dipikirkan di kepala, nggak bisa jadi pembenaran buat tindakan yang nyakitin orang lain.

Kita gak bisa nutup mata sama ancaman kekerasan seksual dan pernikahan anak di bawah umur—ada ribuan anak yang jadi korban. Dan ini bukan kesalahan mereka. Berbagai pihak, mulai dari pemerintah dan orang dewasa di sekitar anak-anak harus nyiptain lingkungan yang lebih aman buat anak.

Hal terdekat yang paling mungkin kita lakuin, coba kasih tahu anak-anak di sekitar kalian. Ajarin mereka bagian tubuh yang gak boleh disentuh — supaya gak terjerat tipu daya pedofil.

Dan kalau ternyata artikel ini terasa dekat sama kalian, segera cari bantuan profesional supaya mencegah hal yang gak diinginkan... Dan seperti biasa, terima kasih.

References

  • Abulafia, J., & Epstein, R. (2020). Impersonal and predatory relations with child victims of sexual assault: pedophilic interest and early childhood abuse. International Journal of Offender Therapy and Comparative Criminology, 64(16), 1741-1756.
  • American Psychiatric Association. (2000). DSMIV-TR. Diagnostic and statistical manual ofmental disorders. APA.
  • BBC News Indonesia. (2015, July 13). Alih-alih ditahan, kaum pedofil Jerman diajak pulihkan diri.
  • Burns, J. M., and Swerdlow, R. H. (2003). Right orbitofrontal tumor with pedophilia symptom and constructional apraxia sign. Arch. Neurol. 60, 437–440.
  • Cantor, J., et al. (2008). Cerebral white matter deficiencies in pedophilic men. Journal of Psychiatric Research, 42(3), 167-183.
  • Fanetti, M., O'Donhue, W., Happel, R. F., & Daly, K. (2014). Understanding Pedophilia. Forensic Child Psychology: Working in the Courts and Clinic, 167-187.
  • Hardeberg Bach, M., & Demuth, C. (2018). Therapists' Experiences in Their Work With Sex Offenders and People With Pedophilia: A Literature Review. Europe's Journal of Psychology, 14(2), 498–514.
  • Jordan, K., Wild, T. S. N., Fromberger, P., MĂĽller, I., & MĂĽller, J. L. (2020). Are there any biomarkers for pedophilia and sexual child abuse? A review. Frontiers in Psychiatry, 10, 940.
  • Kawamoto, R. (2013). The Challenge of Studying Pedophilia.
  • Lang, R. A., & Frenzel, R. R. (1988). How sex offenders lure children. Annals of Sex Research, 1(2), 303-317.
  • Marx, C. M., Tibubos, A. N., Brähler, E., & Beutel, M. E. (2020). Experienced childhood maltreatment in a sample of pedophiles: comparisons with patients of a psychosomatic outpatient clinic and the general population. The Journal of Sexual Medicine, 17(5), 985-993.
  • Miller, L. (2013). Sexual offenses against children: Patterns and motives. Aggression and Violent Behavior, 18(5), 506-519.
  • Mohnke, S., MĂĽller, S., Amelung, T., KrĂĽger, T. H., Ponseti, J., Schiffer, B., ... & Walter, H. (2014). Brain alterations in paedophilia: a critical review. Progress in Neurobiology, 122, 1-23.
  • Seto, M. C. (2009). Pedophilia. Annual Review of Clinical Psychology, 5(1), 391-407.
  • Telloian, C. (2022, February 25). What are the causes of pedophilia?. Psych Central.
  • Tenbergen, G., Wittfoth, M., Frieling, H., Ponseti, J., Walter, M., Walter, H., ... & Kruger, T. H. (2015). The neurobiology and psychology of pedophilia: recent advances and challenges. Frontiers in Human Neuroscience, 9, 344.

Masih banyak pertanyaan tentang dunia?

Gapapa, asal jangan kebingungan sendirian 👀 Makanya yuk gabung bareng 1.000+ orang lainnya yang udah langganan, untuk terus dapet update cerita sains dan teknologi terbaru dari Kok Bisa. Jangan sampe ketinggalan!